Minggu, 08 Januari 2012

permainan binal istriku


“Apa maksud elu?” aku bertanya balik kepada Rony. Waktu itu kami sedang bermain kartu di rumahku (seperti yang biasa kami lakukan beberapa kali dalam setahun) saat Rony menuduh aku sedang mencoba memamerkan istriku, Lisa. Memang benar aku bangga akan penampilan istriku. Dan memang aku menyuruhnya untuk mengenakan pakaian yang menarik lantaran beberapa teman akan datang berkunjung. Namun Rony mengintepretasikan semua itu dengan berlebihan. Menurutku sendiri, lebih baik Lisa tidak ada di rumah sama sekali karena malam ini seharusnya malam khusus para pria. Akan tetapi Lisa benar-benar tidak dapat pergi kemana-mana lagi jadi aku menyuruhnya untuk tetap tinggal dan menyiapkan makanan untuk kami.
“Ayolah, ngaku saja, Bud. Apa dia selalu memakai rok pendek seperti itu di dalam rumah malam-malam begini?” tanya Rony setelah Lisa kembali ke dapur untuk mengambil minuman. “Yah, engga juga. Begini deh, berapa kali elu-elu datang ke rumah gue? Setiap kali gue ada tamu, gue mau semuanya terlihat baik. Kalau begitu kenapa elu enggak tuduh gue memamerkan lantai rumah gue yang mengkilap?”
“Jangan bohong deh, Bud! Tiap kali kita datang ke mari pasti dia ada di rumah, dan lagi pakaiannya selalu seperti begitu!” Mario menambahkan. “Malah gue rasa kali ini dia enggak pakai BH. Bagaimana elu bisa bilang itu ga pamer?”
Saat Lisa masuk kembali ke ruangan akhirnya mereka berhenti merongrongku. Ia baru saja hendak kembali ke dapur untuk menonton TV di sana ketika Rony mengajaknya untuk ikut bermain bersama kami. “Lagipula kamu ada di sini, jadi sekalian saja main bersama kami?” ajaknya. “Tapi kamu harus pakai uang kamu sendiri, engga boleh bergabung dengan suamimu!” tambah Mario.
[+/-] tutup/baca lebih jauh…
Lisa melihat ke arahku untuk meminta persetujuan dan aku hanya mengangkat kedua bahuku. Lisa selalu begitu, mengecek terlebih dahulu dengan keputusanku. Terkadang ia dicemooh dengan melakukan semua yang kukatakan, tapi aku sungguh menghargai sikap kesetiaan para istri pada jaman dulu. Itu salah satu alasan aku menikahinya.
Ia duduk dan mulai bermain bersama kami. Sebenarnya aku tidak keberatan istriku bermain bersama kami tapi aku masih ingin membahas oborlan laki-laki bersama teman-temanku ini. Rony seharusnya bercerita tentang Maria sepupunya. Dia adalah satu-satunya selingkuhanku. Aku melakukan One Night Stand dengannya sekitar seminggu yang lalu ketika kami semua pergi ke klab malam dan saat itu aku mabuk berat. Pernikahanku bisa hancur kalau Lisa tahu tentang perselingkuhanku jadi aku belum menghubungi Maria sejak saat itu.
Kami bermain sekitar satu jam ketika Lisa pergi ke dapur setelah kusuruh mengambilkan minuman lagi. “Pasti enak yah punya robot yang mengerjakan apa yang elu bilang,” kata Ron. “Pakai ini, ambil itu, lakukan ini,” tambah Mario. Ini cemoohan yang biasa Lisa dan aku terima. “Ayolah, brur. Elu-elu cuma iri. Siapa sih yang enggak mau perempuan seperti itu?” aku balik bertanya.
“Elu bener, Bud. Gue juga mau punya istri yang mengerjakan apa yang gue suruh,” jawab Rony. “Gue juga mau. Mana remote controlnya? Boleh ga gue yang kontrol untuk puteran berikutnya?” tanya Karel.
Aku masih menunggu Lisa kembali ke ruangan ketika Mario (yang sudah mabuk) berkata, “Hey bagaimana kalau pemenang dalam satu putaran berhak memegang remote control ini dan bisa mengontrol dia. Gue bakal pencet tombol ‘mute’ supaya dia enggak usah banyak omong, hahaha…”
“Dia bukan robot. Dia engga melakukan semua yang gue suruh kok!” terusik oleh tuduhan itu aku mulai menaikkan suaraku.
Rony kemudian berkata, “Kalau begitu, kita coba saja?”
Mereka benar-benar gila. “Coba apanya?” tanyaku. “Pemenang dalam satu putaran dapat mengontrol dia? Elu-elu gila! Dia enggak akan pernah menuruti perintah elu-elu dan lagipula gue enggak bakalan menyuruhnya untuk ikut bermain permainan edan seperti ini. Lupakan saja!”
“Jadi kalau elu bilang ke dia bahwa si pemenang boleh mengontrol dirinya, seperti yang setiap hari elu lakukan terhadap dia, istri elu enggak bakal menurut? Ha? Lisa itu engga punya pendirian sendiri deh dan pasti dia menurut,” kata Rony.
Aku jadi tambah panas. “Dia melakukan apa yang gue bilang karena dia cinta gue, bukan karena dia enggak punya pendiriannya sendiri. Dia enggak bakal melakukan apa yang elu bilang tadi.” Ini mulai menjadi tidak karuan dan aku hendak menyudahi malam itu.
Ron berdiri untuk melihat apakah Lisa masih berada di dapur lalu berbungkuk ke tengah-tengah kami lalu berkata, “Suruh saja dia untuk melakukannya dan kita lihat apa benar dia itu robot atau bukan. Elu bisa buktikan saat itu juga. Bagaimana?”
“Enggak! Elu sama gilanya seperti si Mario. Jangan takabur deh!” teriakku.
Karel lalu berkata, “Lalu apa yang elu khawatirkan? Elu khawatir kalau dia akan menuruti perintah kita-kita? Lagipula elu kan tahu kalau dia cinta elu dan enggak bakalan menuruti kita-kita karena dia punya pendiriannya sendiri. Kita lihat saja.”
Lisa berseru dari dapur bahwa ia akan segera keluar membawa minuman. “Bud, elu cuma perlu minta sama dia untuk melakukan ini semua dan biar dia yang menentukan berikutnya. Atau elu mau gue ungkit-ungkit kejadian elu dan Maria?”
Sebelum aku dapat memberi jawaban Lisa masuk dan membagikan minuman lalu duduk. Rony menatapku seakan menunggu jawaban dariku. Aku membalas dengan pandangan tak senang untuk menunjukkan bahwa aku tidak akan melakukannya. Kami melanjutkan permainan kartu kami.
“Oh iya, Bud, kemarin gue ngobrol-ngobrol sama sepupu gue Maria,” Rony memulai percakapan.
Aku tidak menyangka Rony menyebut nama Maria saat itu dan dia benar-benar serius. Ini bisa menghancurkan pernikahanku jadi aku harus melakukan sesuatu. Akhirnya aku menyerah dan menginterupsi, “Permainan ini jadi membosankan nih. Mungkin kita perlu melakukan hal-hal konyol supaya jadi menyenangkan.”
“Hal konyol seperti bagaimana?” Karel seakan mengejekku.
“Lisa, bagaimana kalau elu berhenti main dan cuma menemani kita-kita saja? Toh uang elu juga sudah hampir habis,” kataku.
“Ok, aku sudah capek juga lagipula,” katanya menyetujui.
“Tapi untuk membuat taruhannya jadi menarik, elu harus menemani pemenang selama satu putaran,” tambahku menjelaskan.
“Boleh, terserah saja,” jawab Lisa.
Rony melafalkan nama Maria dengan mulutnya tanpa bersuara kepadaku sehingga aku dengan enggan melanjutkan, “Jadi elu harus menuruti perintah siapa pun pemenang di putaran itu, Lisa.”
“Jadi kalau kamu tidak menang, berarti tidak ada yang mengambili minuman untukmu lagi,” Lisa bercanda.
Ron lalu pura-pura bertanya, “Jadi kalau gue menang, dia harus menuruti perintah gue seperti dia menurut perintah elu?”
“Iya!” jawabku.
“Hanya untuk satu putaran,” tambah Karel. “Setelah itu pemenang putaran berikutnya yang akan memegang remote.”
Mario berpikir menggunakan remote TV sebagai simbol merupakan ide yang cemerlang lalu ia meraih remote TV dari meja dan berkata, “Siapapun yang pegang remote ini bisa mengontrol dia.”
Mendengar semua ini jelas-jelas membuat Lisa tersinggung. Ia marah. Bahkan terhadapku juga. Aku masih dapat memperbaiki ini semua tapi aku tidak dapat memperbaiki keadaan jika ia tahu tentang Maria. Oleh karena itulah aku harus berlagak seakan-akan aku menginginkan ia melakukan ini semua. “Apa bagaimana menurut elu, sayang?” tanyaku kepadanya.
Ia memandangiku menunggu isyarat bahwa aku menyetujui hal ini. Ron bersandar ke arah belakang Lisa sehingga ia tidak dapat melihatnya. Lalu ia melafalkan nama Maria tanpa bersuara dengan mulutnya sambil mengangkat kedua bahunya. Terlihat jelas ia ingin aku juga mengangkat bahuku untuk menunjukkan sikap setuju. Akhirnya aku mengangkat kedua bahuku.
“Oke, aku setuju.”
Mario menaruh remote di tengah-tengah meja tempat chip-chip taruhan diletakkan dan kami mulai permainan itu. Kami bermain beberapa set dalam satu putaran, jadi dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit sampai ada pemenang untuk satu putaran. Dan pemenang putaran pertama adalah Karel. Ia meraih remote itu.
Ia menyuruh Lisa mengambilkan minuman untuknya seperti yang biasa kuperintahkan kepada dia. Lisa baru saja hendak berdiri meninggalkan ruangan ketika Karel menyatakan bahwa ia hanya bercanda. Ia lebih memilih menyuruhnya duduk di samping menemaninya untuk membawa keberuntungan di set berikutnya. Lisa berdiri dan berjalan menghampiri Karel lalu berdiri di sampingnya. Menit berikutnya Karel berkata, “Kamu boleh duduk di sini, Lisa.” Ia mengeluarkan pahanya.
Lisa tidak akan melakukannya. Aku tahu ia akan segera membantah dan Rony dapat menelan semua kata-katanya tentang Lisa tidak memiliki pendiriannya sendiri. Semua ini akan segera berakhir. Lisa terus memandangiku menunggu persetujuan dariku. “Apa kamu benar-benar mau aku melakukan apa yang mereka perintahkan?”
Kemudian aku melihat Ron memberi isyarat sesuatu tentang Maria lagi dan menyuruhku untuk mengangkat kedua bahuku. Aku kembali mengangkat bahuku lalu Lisa duduk di pangkuan Karel! Kemudian Lisa berkata, “Terserah, tapi aku tidak mau membuatmu marah. Jadi kasih tahu aku jika kamu mau aku berhenti, sayang.” Coba saja ia tahu bahwa aku tidak dapat menyuruhnya untuk berhenti namun aku mempercayainya dan tidak mungkin ia terus duduk di pangkuan para pria ini hanya karena aku tidak berkeberatan.
Aku duduk memperhatikan istriku memandangiku dari seberang meja, duduk di pangkuan pria lain. Setelah beberapa set, satu putaran akhirnya berakhir. Mario kali ini keluar sebagai pemenang dan meraih remote dari tangan Karel.
“Ah, penyia-nyian saja,” katanya kepada Karel. “Ayo mana remotenya!” Ia berbalik ke istriku dan berkata, “Lisa…”
“Apa, Mario?” sahutnya.
“Hei, panggil aku sayang dong. Aku kan yang pegang remotenya, ayo,” Mario mengejek.
Lisa terdiam beberapa detik lalu berkata, “Apa, sayang?”
“Tadi sebelumnya kami menduga-duga, apakah kamu memakai BH di balik kaos itu?”
Lisa terdiam lagi sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Tidak.”
“Berhubung kelihatannya kamu tidak suka mengenakan pakaian dalam, bagaimana kalau kamu melepaskan celana dalammu juga?” Mario berkata sambil berpura-pura menekan tombol di remote TV itu.
Lisa menatapku lagi selama beberapa detik lalu akhirnya berdiri. Dia mendesah dalam-dalam kemudian menurunkan celana dalamnya dan menanggalkannya. Selama dalam proses melepaskan celana dalam itu, Lisa menjaga dengan amat sangat hati-hati agar rok mini yang dipakainya tetap pada tempatnya sehingga menutup tubuhnya setiap saat. Setelah selesai melepaskan celana dalamnya, Lisa duduk di kursinya.
Beberapa set berikutnya putaran tersebut akan segera berakhir. “Sial, gue udah mulai kalah nih! Lisa duduk di sini seperti yang kamu lakukan ke Karel. Mungkin bisa membawa keberuntungan untuk set yang terakhir ini,” kata Mario.
Lisa berdiri dan menghampirinya. Kali ini keadaan lebih parah dari yang sebelumnya dan aku yakin Lisa dapat melihat perbedaannya. Kalau Karel masih mengenakan celana panjang, namun Mario hanya mengenakan celana pendek dan sekarang ia tidak mengenakan apa-apa di balik rok mininya itu.
Mario mengeluarkan lutut kanannya yang tidak tertutup kain celana itu untuk Lisa duduk di atasnya. Dan Lisa dengan perlahan duduk menyamping pada paha Mario. Aku benar-benar tidak habis pikir! Tidakkah ia menyadari bahwa bagian tubuh pribadinya menyentuh langsung, kulit bertemu kulit, paha temanku yang tidak terlapisi kain itu?! Dan tidakkah ia sadar kalau ini sudah keterlaluan?!
Akhirnya set itu berakhir dan Mario keluar sebagai pemenang sekali lagi. Setelah beberapa set berlalu ia berkata, “Lisa, kamu ini tidak sopan deh. Ayo, menghadap ke meja.” Lisa memutar kepalanya sedikit.
“Bukan, maksud aku badan kamu yang menghadap ke meja. Nih kakimu putar ke depan supaya tubuh kamu menghadap ke meja dan dapat mengikuti permainan dengan lebih baik,” perintahnya.
Lisa tahu apa yang Mario inginkan dan aku merasa lega ia tidak berniat untuk memberikannya kepada Mario. Lisa memindahkan kakinya dari posisi duduk melintang pada paha Mario ke posisi dengan kedua pahanya sejajar dan melewati lutut kanan Mario. Namun Lisa tetap mengepit kedua kakinya rapat-rapat. Mario berharap agar Lisa mengangkangi pahanya karena ia sudah tidak mengenakan celana dalam lagi. Akan tetapi aku sungguh bangga karena Lisa masih menjaga dirinya tetap santun dengan tidak membuka kakinya.
Selama beberapa set berikutnya aku memperhatikan baik-baik bagaimana istriku duduk yang ternyata sulit ditebak karena terhalang oleh rok mininya. Namun kelihatannya Lisa berusaha sangat keras untuk menjaga keseimbangan tubuhnya dalam posisi duduk di atas paha kanan Mario dengan kedua kakinya terkatup rapat. Ujung kaki Lisa hampir-hampir tidak menyentuh lantai. Itu pun cukup membantu meringankan sedikit beban tubuhnya sehingga ia dapat tetap pada posisi yang aman. Lalu Mario mengangkat paha kanannya beberapa sentimeter dari lantai dengan menginjakkan kaki kanannya ke kaki yang lainnya.
Lisa tak dapat menjaga keseimbangannya dan akhirnya harus meletakkan kedua kakinya ke lantai. Dan satu-satunya cara adalah dengan meletakkan kedua kakinya di kanan dan kiri paha Mario. Ya, benar, Lisa harus mengangkangi paha Mario! Roknya masih menutupi semuanya itu tapi aku tahu benar bahwa Mario dapat merasakan vagina Lisa bersentuhan langsung dengan pahanya. Kulit bertemu kulit!
Pada akhir-akhir putaran itu Mario menggerak-gerakkan kaki kanannya dengan perlahan. Perlahan-lahan naik kemudian perlahan-lahan turun. Naik-turun, naik-turun, begitu seterusnya dengan perlahan-lahan. Mario berusaha sebisa mungkin untuk membuat istriku terangsang! Rony memenangkan putaran kali ini dan mengambil alih remote.
Lisa hendak berdiri dari pangkuan Mario tapi Rony menyuruhnya untuk tetap duduk di pangkuan Mario. Mario mengacungkan jempolnya ke Rony sebagai tanda terima kasihnya. Lalu ia kembali menaikturunkan kaki kanannya untuk memberi Lisa ‘tunggangan’ pahanya. Setelah set berikutnya Rony bertanya kepada Lisa, “Mengapa kamu enggak memakai BH malam ini, Lisa? Untuk pamer?”
“Tidak, Ron! Dengan kaos seperti ini kadang-kadang aku memang tidak memakai BH!” Lisa mengejek balik.
“Ah masa sih? Karena kamu suka pamer, aku perintahkan kamu untuk melepaskan kaos kamu. Tentunya asal Budi tidak keberatan.” Kemudian semua pandangan jatuh padaku. Aku tidak dapat berkata apa-apa karena Rony akan membongkar rahasia perselingkuhanku dengan Maria. Dengan enggan aku mengangkat kedua bahuku dan menaruh seluruh kepercayaanku ke Lisa. Ia pasti punya batas sejauh mana keputusannya dan aku yakin kali ini pasti sudah mencapai batasnya.
Rony melanjutkan, “Begini deh, walaupun jelas-jelas Budi enggak keberatan, aku tahu kalau ini pasti susah buat kamu, Lis. Jadi aku akan kasih kamu pilihan. Aku suka melihat kaos yang kamu pakai. Ketat dan seksi. Tapi tujuan tidak memakai BH adalah untuk melihat tonjolan puting dari balik kaos itu. Dan saat ini aku tidak melihat apa-apa. Jadi begini deh, aku kasih kamu waktu sampai set berikutnya selesai. Kamu urus deh masalah itu atau kamu harus melepaskan kaos kamu. Terserah kamu, Lisa.”
Karel membagikan kartu tanda set ini sudah dimulai. Lisa meraih sebotol bir dingin dan menempelkannya ke dadanya selama beberapa detik. Ia melepaskan botol itu dan masih mendapati putingnya belum mengeras. Aku menjadi sedikit lega karena setidaknya ia tidak terangsang oleh semua ini. Well, setidaknya sampai saat ini.
Set ini akan segera berakhir ketika Rony berkicau, “Sudah hampir waktunya untuk melepaskan kaosmu, Lisa.”
Lalu Lisa mendesah dan mulai memilin puting susunya yang masih tertutup kaos di depan semua orang! Semua ini terlihat seperti dalam adegan gerak lambat: Istriku menunggangi paha Mario sambil meremas-remas payudaranya sendiri sementara tubuhnya bergerak naik turun dengan perlahan akibat Mario yang menggenjot paha kanannya naik turun. Mengapa ia tidak mengambil keputusan sendiri dan menyudahi semua ini?!
“Waktunya habis!” Ron berseru setelah set tersebut selesai. Lisa mencubit putingnya dengan keras untuk yang terakhir kalinya dan meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Ron menatap payudaranya dan berkata, “Nah begitu dong. Yah, boleh lah.” Kini semuanya dapat melihat dengan jelas tonjolan puting susunya dari balik kaos putihnya.
“Oke, jaga supaya terus seperti itu sampai akhir putaran ini supaya kamu enggak usah buka kaos itu,” Ron menyimpulkan perintahnya.
Putaran tersebut berakhir kurang lebih 5 menit setelah itu. Dan dalam 5 menit itu aku melihat adegan istriku menunggangi paha Mario sambil meremas-remas payudaranya sendiri demi menjaga agar putingnya tetap tegang. Namun dalam menit terakhir aku melihat ia berhenti meremas-remas buah dadanya sendiri. Dan putingnya masih mengeras!!
Mario memenangkan putaran tersebut dan meraih remote. Raut wajahnya berubah dan sorotan matanya menjadi nakal. Ia tidak berkata apa pun sampai set pertama selesai. Ia terus menggerak-gerakkan kaki kanannya; naik dengan perlahan lalu turun lagi dengan perlahan. Lisa masih tidak menyentuh payudaranya sendiri sampai saat itu namun tonjolan puting susunya masih terlihat, bahkan terlihat lebih menonjol dari sebelumnya.
Lalu Mario bertanya kepadanya, “Lisa, apakah puting susu kamu masih tegang?”
“Iya, Mario,” Lisa menjawab dengan ketus.
“Tapi sudah beberapa menit ini kamu kan enggak menyentuh dada kamu? Kok bisa sih puting kamu masih tegang?” tanyanya lagi.
“Aku rasa ruangan ini dingin!” Lisa menjawab dengan nada yang kasar. Ia tidak memberikan apa yang Mario ingin dengar.
“Lisa, aku akan kasih kamu tawaran yang lebih baik dari tawaran Rony. Aku akan bertanya 2 hal dan kalau kamu menjawab dengan jujur, aku tidak akan memberi perintah apa-apa lagi sampai putaran ini berakhir. Kamu bisa duduk dan menonton permainan ini.”
“Boleh. Apa?” Lisa bertanya.
Mario masih mengangkat tubuh Lisa naik dan turun secara perlahan dengan pahanya. Lalu ia menahan kakinya di atas sehingga kedua kaki Lisa yang berada di kedua sisi pahanya itu terlihat kelelahan.
“Apa???!” Lisa bertanya lagi.
Mario menunggu sejenak lalu mengangkat kaki kanannya sedikit lagi dan menahannya di atas. Lisa harus membiarkan seluruh berat tubuhnya tertopang pada paha Mario. “Pertanyaan pertama: Apakah pahaku basah?”
Lisa terdiam sejenak lalu menjawab, “Ya, sedikit.”
Suasana menjadi sangat hening. Kemudian Mario berkata, “Pertanyaan kedua: Sebenarnya hanya sedikit basah atau sangat basah?”
“Aku rasa sedikit lebih basah deh, sama saja!” Lisa menjawab balik. Lisa benar-benar kesal terhadap Mario sekarang.
Mario membagikan kartu untuk set berikutnya lalu berkata, “Kalau saja kamu menjawab dengan jujur, aku pasti melepaskan kamu sampai akhir putaran ini.”
Lisa beseru, “Aku sudah jawab tadi, apa sih yang kamu mau?” Mario kemudian mengulangi pertanyaan awalnya, “Apakah pahaku ini sesungguhnya hanya sedikit basah atau sangat basah? Cuma dua pilihan kok, hanya sedikit atau sangat? Yang mana, Lisa?”
Aku rasa Lisa menyadari bahwa ini adalah paha Mario jadi sudah pasti Mario tahu kebenaran yang sesungguhnya. Akhirnya Lisa menjawab dengan suara yang pelan, “Sangat.”
Itu adalah jawaban yang parah untuk didengar. Walaupun tidak mau mengakuinya, Lisa baru saja mengatakan kepada teman-temanku bahwa dirinya menjadi sangat basah karena melakukan ini semua di depan mereka! Yah, setidaknya malam sudah begitu larut sehingga permainan akan segera berakhir.
Rony keluar sebagai pemenang di putaran tersebut dan menyuruh Lisa kembali duduk di kursinya sendiri. Ia meraih remote dan mengatakan bahwa supaya adil, ia akan kembali ke sistem memberi pilihan kepada Lisa. Rony memberi istriku pilihan: menanggalkan rok mininya atau melepaskan seluruh pakaianku dengan hanya meninggalkan celana dalamku dan mengikat tubuhku kuat-kuat di kursi sehingga aku tidak bisa bergerak sampai putaran tersebut berakhir. Ron menjelaskan bahwa Lisa akan memberikan pertunjukan seksi untukku dan aku ingin memastikan bahwa aku tidak dapat menyentuh dirinya. Tentu saja Ron kembali meminta persetujuanku dan apa yang dapat aku katakan dengan Ron yang bersiap untuk membeberkan perselingkuhanku. Aku kembali hanya berharap agar istriku tidak melakukan hal yang membutuhkan interferensi fisik dariku.
Lisa mulai melucuti seluruh pakaianku dan mengikat tubuhku. Sampai akhir putaran barulah Rony menyatakan bahwa ikatannya cukup kuat. Dan memang benar, aku tidak dapat bergerak sedikitpun kecuali pergelangan tangan dan kepalaku. Karel kemudian menyeret kursiku pindah ke ruang keluarga. Saat itulah aku mulai menjadi khawatir. Pria-pria ini bukanlah pemerkosa dan lagipula istriku tidak akan pernah melakukan hal-hal yang benar-benar seksual kepada mereka, tapi apa yang sedang terjadi??!
Mereka mulai menjelaskan sesuatu kepada Lisa di ruang kartu tempat kami bermain kartu tadi namun aku tidak dapat mendengarnya. Sesuatu yang berhubungan dengan video kamera. Kira-kira sepuluh menit berikutnya, mereka sudah menemukan kedua video kameraku. Aku masih menduga-duga apa yang mereka rencanakan. Dan sudah pasti Lisa tidak akan setuju mereka merekam dirinya mengenakan kaos ketat itu!
Karel masuk dan menyalakan TV yang diset sehingga menayangkan video kamera dari ruang kartu. Video kamera itu ditaruh di tempat aku duduk sebelumnya sehingga aku dapat melihat istriku sedang menunggangi paha Rony.
Kemudian melalui ikatan yang dibuat Lisa tadi, Karel meraih celana dalamku lalu menariknya turun sampai ke lututku! “Hei, apa-apaan nih?!” aku berteriak.
“Nih!” jawab Karel dan ia meletakkan video kameraku yang lainnya di atas DVD player dan mengarah tepat ke tengah-tengah selangkanganku. Apa si Karel ini homo, pikirku. Lalu ia menyalakan stereo dengan suara yang besar dan pergi meninggalkan ruangan itu. Aku berteriak memanggilnya namun ia tidak dapat mendengar dari balik dentuman musik yang keras.
Aku memperhatikan TV dengan seksama untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dengan suara musik yang keras, aku masih dapat mendengar percakapan mereka dari TV. Mereka mulai bercerita tentang semua omong kosong tentang aku yang mempunyai fantasi seksual untuk melihatnya berhubungan seks dengan mereka semua. Rony menjelaskan bahwa akulah yang merencanakan ini semua dan karena itulah aku tidak keberatan sama sekali atas semua ini dan membiarkan diriku diikat. Lalu di atas meja mereka letakkan TV kecil yang mereka ambil dari dapur. Walaupun aku tidak dapat melihatnya, namun aku tahu apa yang ditayangkan di TV itu. Rony menjelaskan bahwa dengan cara ini aku tidak kehilangan kontrol setelah semua ini dimulai dan TV di atas meja itulah yang menjadi signal dariku apakah harus lanjut terus atau berhenti.
Rony menyalakan TV tersebut. Aku memandang ke arah penisku untuk melihat apa yang sedang Lisa lihat. “Penisnya keras Lisa, berarti dia mau kamu untuk lanjut terus. Itu petunjuk yang dia berikan kepada kita.” “Lisa tidak mungkin percaya! Tidak mungkin!” aku berkata kepada diriku sendiri dalam hati.
Lisa menatap layar TV yang memperlihatkan penisku lalu menatap ke arah video kamera di tempat aku duduk sebelumnya. Aku melihat istriku menatapku melalui layar TV. “Ayolah, Lisa! Jangan mau jatuh ke dalam perangkap mereka!!” aku berdoa. Lalu ia bertanya kepada Rony, “OK, jadi kalau penisnya melembek berarti itu signal bahwa kita harus berhenti?”
Rony menjawab, “Iya, dia bilang kalau penisnya sudah tidak ereksi berarti dia sudah tidak terangsang lagi oleh ini semua dan kita semua harus berhenti saat itu juga.”
Lisa kembali melihat ke layar TV yang masih memperlihatkan penisku yang keras dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan seakan-akan ia baru mengerti semua ini. Aku mulai berpikir apa saja selain seks tapi tidak mungkin untuk membuat penisku melembek. Kemudian Karel berkata bahwa aku berharap tiap orang dapat ikut ambil bagian sehingga ia harus menuruti perintah mereka seperti mereka telah memenangkan satu putaran.
“Lisa, berdiri,” perintah Mario setelah ia pindah ke belakang Lisa melepaskan celana panjang dan celana dalamnya. “Membungkuk dan rebahkan tubuhmu di atas meja. Dan posisikan wajahmu dekat dengan kamera,” perintah Rony. Lisa merebahkan tubuh bagian atasnya ke atas meja dan wajahnya memenuhi seluruh layar TV di depanku karena wajahnya begitu dekat dengan kamera yang dipasang di tempat dudukku.
Aku melihat ia memalingkan wajah untuk melihat ke arah monitor untuk mengecek ulang keadaan penisku. Sial, mengapa penisku masih keras!?! Mario berdiri di belakangnya dan menaikkan roknya sedikit. Lalu ia menampar pantat Lisa dengan keras! Lisa terlonjak tapi tidak memprotes. Rony dan Karel kemudian juga bergerak ke belakangnya dan mulai menanggalkan celana panjang beserta celana dalam mereka.
Lisa memandang ke kamera dan mengisyaratkan dengan mulutnya, “Aku sayang kamu” kepadaku. Kurang ajar, bagaimana mungkin ia percaya bahwa aku menginginkannya melakukan ini untukku?
Rony berkata, “Aku rasa sekarang sebaiknya kamu melepaskan kaosmu.” Lisa mengangkat tubuhnya sedikit dan melepaskan kaosnya. Kedua payudaranya sekarang tertekan di atas meja.
Kemudian Rony bertanya, “Lisa apakah kamu siap untuk memberikan pertunjukan yang indah kepada suami kamu?”
Karel berkata kalau ia mendapat ide lalu pergi mengambil sesuatu. Ia kembali dengan sebuah buku dan mulai menulis sesuatu dengan bantuan Rony dan Mario. Kemudian mereka memberikan buku itu kepadanya.
Rony kemudian bertanya sekali lagi, “Apakah kamu siap untuk memberikan pertunjukan yang indah untuk fantasi suamimu? Nih, untuk membuat ini menjadi lebih enak, setiap kali kami sebut suatu angka, kamu harus membacakan dengan keras apa yang tertera di buku ini.”
Lisa membaca tulisan di buku itu lalu melihat ke TV dan mendapati penisku yang masih keras. Ia ingin semua ini berakhir, aku tahu itu, akan tetapi aku tidak mampu melenyapkan ereksiku. Seberapa gigihnya aku mencoba, penisku tetap sekeras batu.
Rony membungkuk dan menulis beberapa kata lagi di buku itu. Setelah itu, ia bergabung bersama Karel dan Mario dan berkata, “OK, Lisa, nomor 1.”
Tanpa perasaan ia membaca tulisan itu datar, “Aduh, gua horny banget. Ayo dong ngentotin gua.”
Rony menampar pantatnya dan berkata, “Ingat, ini fantasi Budi. Mana percaya dia sama omongan seperti itu? Ayo ucapkan sekali lagi, kali ini buat dia pikir bahwa kamu sungguh-sungguh menginginkannya!”
“Aduh, gua horny banget. Ayo dong ngentotin gua…” Lisa berseru lebih kencang kali ini dan kedengarannya cukup dapat dipercaya. Aku tidak bisa mempercayai kalau ia benar-benar akan melakukan ini semua.
Mario maju menghampirinya dari belakang. Aku tidak dapat memastikan apakah ia benar-benar berada di dalam istriku atau tidak namun wajah Lisa mulai bergerak-gerak sedikit maju ke arah kamera. Mario pasti sedang mendorong tubuh Lisa dengan penisnya. Lisa mengecek ke monitor TV dan Rony berkata, “Dia masih ingin kita meneruskan semua ini, Lisa.”
Setelah itu Lisa mulai bergoyang-goyang maju mundur dan tidak ada keraguan dalam diriku lagi bahwa ia sedang berhubungan seks dengan Mario, aku melihatnya tepat di depan monitor TV di depanku. Kali ini aku yakin seyakin-yakinnya! Aku berusaha melepaskan diri dari ikatan tapi usahaku sia-sia.
“Nomor dua!” Mario berseru dari belakang. “Rasanya enak sekali dimasukin elu!” kata Lisa setengah mendesah.
“Enak dimasukin siapa?” Rony bertanya.
Lisa menunggu sejenak lalu menoleh ke belakang dan menjawab, “Mario.”
“Nomor enam!” Mario berseru. Lisa kembali merujuk ke buku lalu wajahnya memelas.
“Tampar pantat gue!” kata Lisa.
Mario menampar pantatnya dengan keras dan pada saat yang sama berteriak, “Nomor tujuh!”
“LAGI!” seru Lisa.
Kemudian sebuah tamparan diluncurkan lalu ia dipaksa untuk memintanya lagi dan sebuah tamparan lagi. Ini berlangsung lebih dari satu menit. “Lagi,” rengek Lisa. Setelah itu satu tamparan keras terakhir dari Mario sebelum akhirnya ia mundur. Apakah ia sudah ‘keluar’? Apakah ia mengeluarkannya di dalam istriku?! Aku tidak tahu.
Mario bergeser dan tempatnya di ambil oleh Karel.
“Nomor SATU!” Rony berseru.
“Aduh, gua horny banget. Ayo dong ngentotin gua…” kata Lisa.
Seperti sebelumnya Lisa terdorong mendekat ke kamera, namun ada yang beda kali ini. Ia terlihat kaget.
“NOMOR DELAPAN!” seru Karel.
“Gua suka kontol yang gede kaya begini di dalam gua,” kata Lisa.
Sambil memompanya dari belakang, Karel membungkuk dan bertanya tepat di telinga Lisa, “Elu suka ngentot sama kontol gede kan, Lisa?”
Lisa tidak memberi jawaban, jadi Rony berseru dari samping, “Nomor delapan!”
“Gua suka kontol yang gede kaya begini di dalam gua,” jawab Lisa.
Lisa masih bergoyang-goyang maju mundur di depan kamera karena hentakan pinggul Karel.
Karel membungkuk lagi dan tepat di telinga Lisa ia bertanya dengan keras sehingga semua orang di ruangan itu dan aku yang berada di ruang sebelah dapat mendengar, “Elu suka kontol gede gua ngentotin elu, kan?”
Tidak ada jawaban. Karel masih tetap membungkuk dengan mulutnya menempel di telinga Lisa sambil terus memompa penisnya ke dalam Lisa. Wajah Lisa tertunduk ke bawah menghadap meja. Karel menjambak rambutnya dan menarik wajahnya ke atas sehingga wajahnya kini memandang tepat ke kamera dan bertanya sekali lagi, “Elu suka kontol gede gua ngentotin elu, kan, Lisa?”
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Rahang Lisa terkatup rapat dan goyangan tubuhnya semakin cepat karena Karel benar-benar memompa ke dalam tubuhnya dengan penuh tenaga. Lisa membuka matanya dan memandangi langit-langit, terlihat jelas ia berusaha untuk menoleh ke samping tetapi Karel mencengkram rambutnya kuat-kuat. Mulutnya masih berada di telinga Lisa dan terus berbicara kepadanya. Kini ia menggenjot sekuat yang ia bisa dan bertanya sekali lagi, “Elu suka kontol gede gue ngentotin elu, kan, LISA?”
Lisa berteriak dari balik rahangnya yang terkatup, “IYAAAA!” Tidak ada nomor yang disebut kali ini! Jawaban itu keluar dari dirinya sendiri! Ia pasti hanya mencoba menjawab apa yang mereka ingin dengarkan. Aku hanya bisa berharap itu.
“Sudah gua duga,” kata Karel sambil bergerak meninggalkan Lisa.
“Nomor satu,” kata Ron.
“Aduh, gua horny banget. Ayo dong ngentotin gua…” rengek Lisa.
Aku dapat melihat bahwa Lisa sudah lelah tapi aku tahu Rony harus mendapat gilirannya juga. Ia menyuruh Lisa untuk berdiri lalu mereka menggeser meja itu ke samping, meninggalkan satu kursi di tengah-tengah dan Rony duduk di sana menghadap ke kamera. Ia menyuruh Lisa untuk melepaskan rok mininya sebagai pakaian terakhirnya dan ia menurut.
“Lisa duduk di pangkuan gua, menghadap ke kamera. Trus ngentotin gua, karena elu bilang elu horny,” perintah Rony. Ia menghampiri Rony, memutar tubuhnya menghadap kamera lalu duduk di pangkuan Rony. “Oh enggak dong, gua enggak suka becek yang bekas orang lain. Nomor sepuluh, Lisa.”
Lisa membaca tulisan di buku itu lalu melihat ke arah monitor TV. “Gua mau dientot di anus,” katanya. Bahkan aku tidak pernah melakukan ini dengannya dan sekarang ia akan melakukannya dengan Rony, untuk pertama kalinya! Setelah mengecek keberadaan penisku di monitor TV untuk kesekian kalinya akhirnya ia dengan perlahan duduk di pangkuan Rony.
Rony mengarahkan penisnya ke liang duburnya. Aku dapat melihat semuanya dengan jelas. Tubuh Lisa basah oleh keringat sehingga pantatnya hanya bergerak turun secara perlahan menelan batang kemaluan Rony sampai ia duduk sepenuhnya di pangkuan Rony. Tentu dengan penis Rony bersarang di liang duburnya. Rony membuka kedua kaki Lisa lebar-lebar sehingga kami semua dapat melihat apa yang terjadi. Lalu ia memberi perintah, “Sekarang, ngentotin gua Lisa! Ayo, kasih pertunjukan yang bagus!! Gerakin tuh pantat secepat yang elu bisa!”
Dengan penis Rony di anusnya, Lisa mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan melingkar, Lisa mulai menunggangi Rony! Sementara Rony hanya duduk diam, istrikulah yang melakukan semua gerakan sensual itu. Mario mengambil buku itu dan menaruhnya di tangan Lisa lalu berkata, “Nomor sebelas.”
Gerakannya menjadi sedikit melambat agar dapat membaca tulisan itu lalu berkata, “Minta kontol lain dimasukin ke gua dong.” Penis Rony sudah berada di dalam anusnya, kini Karel maju di hadapannya, berdiri tegak. Karena terhalang punggung Karel, aku tidak dapat melihat apa-apa sekarang, kecuali kepalanya. Dan Karel segera mulai memompa tubuh Lisa. Kini ada dua penis yang masuk ke dalam tubuh istriku. Menerima dua penetrasi sekaligus, tubuhnya benar-benar lemas dan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghentikan ini semua!
Mario berjalan menuju ke wajahnya dan mengeluarkan penisnya ke arah mulutnya. Lalu Lisa mulai menghisap penis itu! Tidak ada nomor yang disebut, tidak ada perintah yang diucapkan, tidak ada apa-apa, dan ia langsung melahap dengan mulutnya. Dengan satu penis di dalam vaginanya, satu di dalam anusnya, dan satu di dalam mulutnya, Lisa mulai mendesah seperti kesurupan. Desahannya benar-benar keras, lagi dan lagi. “Mmmmppphhhhhh mmmpphhhhh….” Lisa sudah hampir berorgasme, lebih kuat dari yang pernah aku lihat sebelumnya, aku dapat melihatnya.
Tiba-tiba mereka semua menarik mundur dengan cepat meninggalkan Lisa dengan nafas yang memburu kencang dan hampir berorgasme. Ia menjadi gila. Ia memandangi mereka dengan terengah-engah lalu menghampiri mereka setelah mendapat kekuatan untuk melangkah. Namun Ron menghentikannya dan berkata, “Jangan! Pakai lutut elu dan merangkak ke sini!” Dan ia menurut. Istriku merangkak dengan perlahan menghampiri mereka tetap dengan wajah yang dikuasai birahi yang meletup-letup.
Mario meraih video kamera lalu menyorotnya dari atas. Lisa memandang ke atas ke arah lensa kamera. Karel menampar salah satu payudaranya. “Mmmmmppphhh” keluar dari mulut Lisa. Apakah ia suka? Satu tamparan lagi. “Mmmppphhh,” ia mengerang lalu meremas-remas payudaranya sendiri. Satu tamparan lagi dan Rony memberi perintah, “Jangan klimaks dulu!” Aku berharap mereka dapat membiarkannya berorgasme sehingga ia dapat segera berhenti bertingkah seperti itu.
Mario masih menyorot kamera itu dari atasnya, sementara Rony dan Karel mulai menampari wajahnya dengan penis mereka. Lisa meraih kedua penis itu dan mulai mengocoknya dengan tangannya. Aku tidak pernah melihat Lisa terangsang separah ini sebelumnya!
Karel dan Rony hanya berdiri saja sementara Lisa mengocok penis mereka. Dan kelihatannya mereka berdua sudah mau mencapai klimaksnya. Lisa merasakan hal ini dan memandangi bergantian satu penis ke penis yang lain, mencoba memilih penis mana yang harus dihisapnya sehingga ia dapat menelan semburan sperma panas dari penis mereka. Akhirnya ia menghisap kedua penis itu bergantian. Lalu mereka berdua mulai mengejang dan Lisa menjadi panik. Tak ingin kelepasan salah satu dari penis itu, akhirnya ia memasukkan kedua penis itu ke dalam mulutnya. Dan pada saat yang bersamaan, kedua penis itu meletup dan memuntahkan lahar sperma ke dalam mulutnya sampai penuh meluap. Walaupun ia berusaha untuk menelan secepat mungkin, masih saja lelehan sperma itu mengalir dari pinggir bibirnya.
Mario kemudian memberikan kamera itu kepada Karel lalu bermasturbasi di depan Lisa. Ia mencoba menghentikan Mario karena ia belum mencapai klimaks dan ia sangat butuh penis yang masih keras. Namun terlambat, Mario memuncratkan cairan spermanya ke seluruh wajahnya. Lisa mulai bermasturbasi lagi agar dapat mencapai klimaks, namun lagi-lagi Rony menghentikannya. Ia memerintahkan Lisa, “Sana masuk ke ruang keluarga dan selesaikan dengan suami elu. Kasih tau dia betapa elu suka menjadi jalang malam ini!”
Lisa berlari masuk dan menerjang tubuhku. Teriakanku tenggelam dalam suara musik yang keras. Karena tidak dapat bergerak dalam ikatan di kursiku, aku hanya duduk dan menerima goyangan istriku. Mario, Rony dan Karel pergi sementara Lisa menggenjot penisku. Lisa mengeluarkan kata-kata cabul dan mengatakan betapa terangsangnya dia lalu berorgasme dengan dahsyat! Ia turun dari tubuhku, melepaskan ikatan-ikatanku lalu tak sadarkan diri di lantai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar